Nonchalant Bukan Sekadar Sikap: Produk Toxic Maskulinitas dalam Relasi

Dalam sebuah hubungan, kita sering terjebak pada asumsi bahwa ketiadaan konflik besar adalah tolok ukur kebahagiaan. Kita cenderung mengukur keharmonisan dari kepatuhan atau kesediaan pasangan untuk mengikuti keinginan kita. Namun, pertanyaan krusialnya adalah apakah ketenangan itu muncul karena saling memahami, atau karena salah satu pihak sedang membangun benteng pertahanan?

Sering kali, di balik hubungan yang terlihat tenang, terdapat ruang batin yang terkunci rapat. Sejak kecil, laki-laki tumbuh dalam dekapan patriarki yang mendikte mereka untuk selalu terlihat kuat, dominan, dan anti-kerentanan. Konstruksi maskulinitas ini tidak memberikan ruang bagi emosi yang dianggap “lemah”. Akibatnya, saat menghadapi gejolak batin, mereka tidak memiliki kosakata emosi untuk mengungkapkannya. Ketiadaan ruang ekspresi ini melahirkan Toxic Masculinity yang bermanifestasi dalam dua kutub ekstrem, sikap nonchalant (abai/dingin) atau ledakan kekerasan.

Bagi banyak laki-laki, menarik diri dan membisu adalah mekanisme pertahanan diri karena mereka tidak diajarkan cara berdialog. Namun, di sisi lain, patriarki juga menanamkan ego bahwa laki-laki harus memegang kendali. Ketika kendali itu terasa terancam, maskulinitas yang rapuh ini sering kali beralih menjadi tindakan kasar. Kekerasan, dalam hal ini, bukan sekadar pelampiasan amarah, melainkan bentuk komunikasi yang tidak sehat akibat sistem yang membisukan sisi manusiawi mereka.

Di sinilah letak ketimpangannya. Bagi perempuan, mengajak berdialog adalah bentuk kasih sayang dan upaya pemulihan. Namun, bagi laki-laki yang terjerat konstruksi patriarki, ajakan bicara justru dirasakan sebagai ancaman terhadap otoritas mereka. Alih-alih mendapatkan keterbukaan, hubungan justru membentur tembok keheningan yang dingin atau, dalam titik terendahnya, berujung pada relasi kuasa yang toksik dan destruktif.

Penjara Emas Maskulinitas Hegemonik

Patriarki tidak hanya menindas perempuan secara struktural, tetapi juga memenjarakan laki-laki dalam standar perilaku yang sempit. Seperti dijelaskan dalam konsep maskulinitas hegemonik oleh R. W. Connell dalam bukunya Masculinities (2005), laki-laki juga menjadi subjek yang terjerat oleh sistem patriarki itu sendiri. Laki-laki dididik untuk menjadi sosok yang stoik, tak tergoyahkan, dan anti-feminin. Ketika laki-laki mengekspresikan kesedihan, kebingungan, atau rasa bersalah, ekspresi tersebut kerap dianggap mengancam identitas kelaki-lakian mereka, yang pada akhirnya mereproduksi praktik toxic masculinity.

Dalam konteks relasi, sikap abai sering menjadi pintu awal dari praktik toxic masculinity yang lebih luas. Ketidakmampuan mengelola emosi dan berkomunikasi secara sehat dapat berkembang menjadi penghindaran tanggung jawab emosional, kontrol, hingga penggunaan kekerasan. Pola ini menunjukkan bahwa toxic masculinity bukanlah sifat bawaan, melainkan hasil dari proses sosial yang menormalisasi jarak emosional dan dominasi sebagai bagian dari “kejantanan”.

Pola pengabaian emosi dan jarak afektif tersebut dapat dibaca melalui konsep yang dikemukakan oleh Ronald F. Levant tentang Normative Male Alexithymia (1998). Fenomena ini bukan sekadar soal laki-laki yang “pendiam”, melainkan kegagalan sistemik dalam mengenali, memberi nama, dan mengomunikasikan emosi. Karena sejak kecil laki-laki tidak diberi ruang untuk mengolah perasaan, banyak laki-laki dewasa tumbuh dengan kosa kata emosional yang terbatas. Akibatnya, ketika tertekan oleh dinamika relasi, mereka sering kali tidak memiliki “alat navigasi” untuk menjelaskan apa yang terjadi di dalam kepala dan perasaan mereka sendiri.

Ketika kegagalan mengenali dan mengomunikasikan emosi menjadi pola yang menetap, dampaknya tidak berhenti pada kesulitan personal, tetapi merembet ke dinamika relasi yang destruktif. “Penjara emosional” ini kemudian bermanifestasi dalam hubungan yang toksik, yang berujung pada keretakan relasi hingga tindakan ekstrem. Kekerasan verbal, fisik, maupun emosional berakar pada maskulinitas toksik yang mengutamakan dominasi dan kontrol (Dewi, A. Z., & Umaroh, A. K., 2025). 

Pola dominasi dan pembungkaman emosi tidak berdiri sendiri, melainkan disokong oleh norma maskulinitas toksik yang melanggengkan wacana bahwa laki-laki harus kuat dan tidak boleh menunjukkan sisi emosional (Hermawan, I & Hidayah, N, 2023). Hal ini menciptakan pola komunikasi yang disfungsional dalam hubungan pernikahan, yang ditandai dengan dominasi (pengambilan keputusan sepihak), pengabaian emosional, dan manipulasi emosional. Komunikasi yang tidak efektif ini membuat pasangan merasa terkekang dan tidak dihargai, yang merupakan faktor dominan pemicu keretakan rumah tangga hingga perceraian (Mahsa, L. M., & Meifilina, A, 2025).

Tekanan untuk terus menampilkan citra “kuat” juga berdampak serius pada kesehatan mental laki-laki sendiri. Meskipun angka percobaan bunuh diri lebih tinggi pada perempuan, tingkat kematian akibat bunuh diri lebih tinggi pada laki-laki di banyak negara. Fenomena ini berkaitan dengan sosialisasi maskulinitas hegemonik yang menuntut laki-laki menekan emosi rentan seperti takut dan sedih, sementara menormalisasi kemarahan atau agresi sebagai ekspresi yang dapat diterima.

Tekanan untuk selalu tampak tangguh membuat laki-laki cenderung menghindari pencarian bantuan profesional, bahkan saat berada dalam krisis relasional seperti perceraian. Dalam kondisi ini, bunuh diri kerap muncul sebagai jalan terakhir untuk melepaskan beban emosional yang tidak pernah terartikulasi (Galvez-Sánchez et al., 2024).

Sebagai kelanjutan dari pola penekanan emosi tersebut, banyak laki-laki memilih mekanisme koping berbasis distraksi atau penarikan diri dari interaksi. Keheningan atau stonewalling kemudian tidak lagi sekadar jeda komunikasi, melainkan cara mempertahankan posisi dalam relasi. Emosi yang terus dipendam menjadi “bom waktu” yang, ketika tekanan memuncak, meledak dalam bentuk agresi verbal sebagai pelampiasan rasa tidak berdaya.

Dalam kebuntuan komunikasi ini, pola Demand–Withdraw kerap muncul: satu pihak berusaha mencari kejelasan, sementara pihak lain menarik diri ke dalam keheningan. Bagi laki-laki dengan literasi emosional terbatas, upaya dialog mudah ditafsirkan sebagai ancaman, sehingga respons yang muncul justru penghindaran yang pada akhirnya memperdalam ketegangan dalam relasi.

Emotional Labor Kerja Keras yang Tak Kasat Mata

Dalam hubungan yang sehat, tanggung jawab untuk menjaga kenyamanan perasaan seharusnya dibagi rata. Namun, dalam banyak kasus, perempuan memikul beban ini sendirian. Ketidakseimbangan ini berujung pada apa yang disebut Arlie Hochschild (1983) sebagai ketimpangan Emotional Labor (Beban Kerja Emosional).

Kerja emosional ini mencakup tindakan-tindakan yang melelahkan menebak apa yang salah saat pasangan diam, memilih kata-kata yang sangat hati-hati agar tidak menyinggung ego pasangan, hingga memikirkan cara memberikan "sebuah hadiah" sebagai bentuk penutupan yang bermartabat.

Sementara itu, pihak laki-laki sering kali merasa bebas untuk "lepas tangan" dan fokus pada mekanisme koping pribadinya sendiri (seperti hobi atau game), seolah-olah konflik tersebut tidak pernah ada atau bukan tanggung jawabnya untuk menyelesaikan. Beban kerja emosional yang tidak setara ini menyebabkan kelelahan psikis (burnout) pada perempuan. Kita dipaksa untuk terus-menerus memahami alasan di balik diamnya dia, memahami masa lalunya, dan memahami keterbatasannya, sementara kebutuhan kita untuk dipahami justru diabaikan.

Dalam perspektif sosiologis, ini adalah bentuk eksploitasi emosional di mana satu pihak terus memberi energi, sementara pihak lain hanya mengonsumsi energi tersebut tanpa memberikan timbal balik yang setara. Salah satu bagian yang paling traumatis dalam ketidakseimbangan relasi adalah ketika keheningan tiba-tiba pecah menjadi agresi verbal.

Ketika pria yang terbiasa memendam emosi merasa posisinya digoyang dalam konflik—terutama saat diminta bertanggung jawab secara emosional ia bisa bereaksi defensif atau agresif. Reaksi ini mencerminkan fragile masculinity: maskulinitas yang rapuh dan mudah merasa terancam.

Ketidakmampuan untuk bernegosiasi secara emosional menciptakan rasa frustrasi yang hebat. Karena ia tidak memiliki perangkat untuk berkata,egonya memilih jalan pintas melalui kemarahan. Makian, kata-kata kasar, dan tindakan mengusir pasangan adalah bentuk "Power Play" terakhir untuk mengembalikan dominasi. Dengan membuat pasangan merasa kecil dan bersalah, ia berhasil mengalihkan fokus dari kegagalan komunikasinya menuju "kesalahan" perilaku pasangannya.

Permintaan maaf atau upaya rekonsiliasi dari pihak perempuan sering kali tidak membuahkan hasil, karena bagi pria yang sedang melindungi egonya, menerima maaf berarti mengakui adanya masalah sesuatu yang selama ini ia hindari melalui mekanisme stonewalling.

Relasi yang sehat tidak mungkin dibangun di atas ketimpangan kerja emosional dan pembungkaman perasaan satu pihak. Karena itu, membongkar toxic masculinity sebagai produk dari sistem patriarki adalah prasyarat. Perubahan menuntut kesadaran struktural sekaligus tanggung jawab personal: laki-laki perlu terlibat aktif untuk belajar bertanggung jawab secara emosional, merefleksikan pola relasinya, dan melepaskan logika dominasi yang diwariskan sistem.

Tanpa keberanian laki-laki untuk ikut membongkar privilese dan kenyamanan semunya sendiri, relasi akan terus berputar dalam siklus sunyi ledakan luka yang sama.

0 comments

Leave a Comment