Pada minggu lalu, 13-16 Januari 2026, saya diberikan kesempatan untuk mengikuti rangkaian kegiatan Nyadran Perdamaian 2026 di Dusun Krecek dan Dusun Gletuk, Desa Getas, Temanggung, Semarang, Jawa Tengah. Acara ini diinisiasi oleh Asian Muslim Action Network (AMAN) Indonesia, dan juga diikuti oleh penulis dan media perempuan lainnya.
Nyadran merupakan tradisi yang hidup di banyak wilayah Jawa, terutama di Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur, berupa ziarah kubur, pembersihan makam leluhur (besik), doa bersama, dan kenduri untuk menyambut bulan Ramadhan atau biasa dilakukan di bulan Rajab.
Namun, dalam praktiknya, makna Nyadran tidak pernah tunggal. Ia selalu dibentuk oleh konteks sosial, relasi antar warga, serta nilai-nilai yang dijaga oleh komunitas yang melakukannya. Sebab di Dusun Krecek dan Dusun Gletuk, Nyadran tidak hanya menjadi ritual budaya keagamaan tetapi juga ruang perjumpaan lintas iman dan ruang belajar tentang hidup bersama.
Nyadran yang Melintasi Dua Iman
Prosesi adat umumnya dilekatkan pada satu identitas keagamaan tertentu. Doa-doa dipisahkan, ritual dibingkai dalam batas iman yang tegas. Namun, Nyadran di Dusun Krecek dan Gletuk justru bergerak melampaui batas tersebut.
Di dusun ini, Nyadran menjadi ruang perjumpaan dua agama, yaitu Islam dan Buddha. Jika mayoritas masyarakat agamis sibuk mempertanyakan ritual agama mana yang paling benar, di sini sangatlah berbeda. Mereka melepaskan sekat-sekat itu dan menyatukannya dalam semangat yang sama: penghormatan pada leluhur, rasa syukur atas kehidupan, dan harapan akan keselamatan bersama.
Mbah Sukoyo, tokoh adat Dusun Krecek, mengatakan, “Tradisi ini secara turun temurun dilakukan, kami melakukan Nyadran untuk hal yang sama, yaitu memberi penghormatan kepada sang leluhur. Kuburan mereka saja tidak ada sekat batas antara Muslim dan Buddha, masa kita yang hidup malah mempermasalahkan?”
Perkataan Mbah Sukoyo membuat saya merenung. Selama ini, kita berpikir bahwa mendoakan seseorang harus berlandaskan keimanan yang sama. Padahal, seharusnya doa tidak dipertentangkan, melainkan disandingkan. Keyakinan pun tak seharusnya dijadikan tembok, tetapi menjadi jembatan bagi umat dengan sosok Tuhan yang berbeda.
Selain itu, kehadiran Bhikkhuni Thitacarini dalam prosesi Nyadran tahun ini memperlihatkan wajah lain dari kepemimpinan keagamaan yang jarang terlihat. Selama ini, otoritas keagamaan kerap didominasi oleh figur laki-laki, namun dalam Nyadran di Dusun Krecek dan Gletuk, Bhikkhuni Thitacarini yang merupakan seorang bhante perempuan hadir dan ikut memimpin langsung prosesi Nyadran ini.
Kehadiran Bhikkhuni Thitacarini disambut dengan penuh suka cita oleh para warga. Kehadirannya tidak hanya menjadi pengalaman bermakna secara spiritual, tetapi juga membuka ruang pemaknaan baru bagi masyarakat tentang kepemimpinan keagamaan yang inklusif.
Perempuan Ikut Merayakan Nyadran
Dalam praktik adat di banyak tempat, prosesi ritual hampir selalu didominasi oleh laki-laki. Nyadran pun sejak lama berada dalam pola tersebut. Laki-laki tampil sebagai aktor utama dalam prosesi adat, sementara perempuan ditempatkan di ruang pendukung, seperti memasak, menyiapkan hidangan, dan memastikan kebutuhan logistik terpenuhi. Kerja-kerja perempuan yang penting ini, sering kali tidak diakui sebagai bagian ritual itu sendiri.
Namun, di Dusun Krecek dan Gletuk, Nyadran tidak lagi sepenuhnya dimonopoli oleh laki-laki. Sejak tahun 2019, perempuan ikut berpartisipasi aktif dalam proses Nyadran. Meski begitu, persiapan konsumsi masih banyak dikerjakan oleh perempuan. Namun, terdapat perubahan relasi yang perlu saya apresiasi.
Dalam prosesi Nyadran, laki-laki dan perempuan berbagi peran. Laki-laki menggotong bakul-bakul makanan simbol hasil kerja kolektif warga, sementara perempuan memasak dan memastikan pangan tersedia bagi semua. Meski begitu, ada pula beberapa laki-laki juga ikut membantu menyiapkan bahan baku untuk dimasak.
Saya melihat, pembagian peran tersebut merupakan bentuk kerja kolektif yang saling bergantung. Memasak tidak ditempatkan sebagai kerja domestik semata, tetapi sebagai bagian penting dari ritual sosial dan adat. Dapur pun menjadi ruang bagi pengolahan pangan, sekaligus penjaga agar ia cukup, dapat dibagikan, dan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan bagi seluruh warga.
Selama tinggal di Dusun Krecek, saya sempat berbincang panjang dengan induk semang saya, Ibu Rumina. Ia membagikan pengalamannya tentang perubahan dalam praktik Nyadran. “Dulu, Nyadran itu hanya bapak-bapak saja yang ikut. Perempuan tidak ikut, wong sudah capek di dapur. Tapi sejak tahun 2019, ada sosialisasi bahwa perempuan juga berhak ikut prosesi Nyadran,” tutur Ibu Rumina.
Bahkan, Ibu Rumina juga menyatakan bahwa dapur bukan hanya semata ruang kerja, melainkan ruang perjumpaan. Tempat perempuan-perempuan bertemu, berbincang, dan merawat relasi sosial, katanya, “Bukan hanya saat Nyadran. Tapi, setiap acara adat dan keagamaan kami memasak bersama. Jadi ruang berkumpul kami, sekaligus cara kami menjaga pangan agar selalu cukup untuk semua.”
Perempuan Menjaga Adat, Merawat Alam
Praktik kebersamaan ini tidak berhenti pada prosesi Nyadran semata. Di Dusun Krecek dan Gletuk, kebersamaan justru dirawat dalam keseharian. Dalam setiap acara adat dan keagamaan baik yang diselenggarakan oleh Muslim maupun Buddha, warga saling membantu dan memasak bersama.
Yang menarik perhatian saya, sebagaimana diceritakan oleh Ibu Rumina, warga Dusun Krecek dan Gletuk memiliki relasi yang sangat dekat dengan alam. Kehidupan mereka bergantung pada sawah dan ladang yang dikelola secara turun-temurun. Dalam keseharian, perempuan turut terlibat dalam proses menanam dan memanen, sebagai bagian dari kerja bersama keluarga dan komunitas.
Dari praktik sehari-hari inilah ketahanan pangan tumbuh. Bagi warga, ketahanan pangan tidak dimaknai semata sebagai ketersediaan makanan, melainkan sebagai relasi sosial yang dibangun atas dasar kepedulian dan kebersamaan. Hasil panen memang masih diperjualbelikan, namun sebatas untuk memenuhi kebutuhan hidup, bukan untuk mencari keuntungan berlebih.
Selebihnya, warga saling bertukar hasil panen atau membeli dari tetangga sendiri, misalnya, ketika satu keluarga memanen cabai, hasil tersebut dibeli oleh warga lain yang kemudian menukar atau menjual singkong dari panennya. Pola ini menjadi cara warga memastikan tidak ada keluarga yang kekurangan pangan atau mengalami kelaparan.
Bagi saya, praktik ini mencerminkan kedaulatan pangan. Sebab, para warga memiliki kendali atas apa yang mereka tanam, bagaimana mereka mengolahnya, dan kepada siapa hasilnya dibagikan. Alam dirawat bersama, hasilnya dinikmati bersama, dan kehidupan dijaga bersama.
Nilai-nilai ini sejalan dengan pandangan ekofeminisme Vandana Shiva dalam Staying Alive: Women, Ecology and Development (1988). Ia memandang relasi perempuan dengan alam dan pangan sebagai praktik perawatan kehidupan yang berkelanjutan, bukan relasi eksploitatif yang berorientasi pada keuntungan semata. Hal ini karena pengetahuan ekologis perempuan lahir dari praktik hidup sehari-hari, seperti bertani, mengolah pangan, dan merawat alam.
Dari sana, saya dapat melihat Nyadran Perdamaian 2026 di Dusun Krecek dan Gletuk sebagai secercah harapan. Bahwa, masih ada warga yang peduli terhadap kesalingan antara adat, agama, dan alam dalam satu praktik hidup yang adil dan setara. Dan, dari perempuan-perempuan dusun ini, saya belajar bahwa perdamaian dapat dimulai dari keberanian merawat kehidupan manusia, menjaga tradisi dan alam secara bersama-sama.
0 comments