Catatan Relawan Muda Menyusuri Situasi Bencana Aceh–Sumatra

Meski sudah lebih dari dua bulan berlalu, sesak itu kembali menyeruak setiap kali banjir bandang yang menimpa Aceh dan sebagian wilayah Sumatra dibicarakan. Ingatan tentang air yang datang tiba-tiba, terputusnya akses, dan keluarga yang tercerai berai belum benar-benar surut. Terlebih, saat melihat respons pemerintah yang tak serius dalam menangani situasi darurat tersebut.

Perasaan itu semakin mengental ketika kami berbincang dengan Khalida Zia, Founder svara_org (dibaca: suara), sekaligus korban dan relawan. Dalam obrolan yang awalnya terasa ringan, napas kami berkali-kali tertahan. Cerita demi cerita dari Zia memunculkan rasa frustrasi, kekecewaan, dan kesedihan yang perlahan berubah menjadi kemarahan dalam diam.

Bencana yang Tak Pernah Terprediksi

26 November menjadi titik awal puncak bencana. Hujan turun dengan deras, sejak semalam sebelumnya. Zia yang berlokasi di Banda Aceh, sempat menanyakan kabar dan menginfokan kalau kondisi hujan terus-terusan tampak tak masuk akal. Namun, keluarga dan kerabatnya di Bireuen, menganggap itu sebagai hal yang biasa. 

Sampai akhirnya di Bireuen, air naik dengan perlahan dalam rentang 5–6 jam, mulai dari setumit orang dewasa. Banyak orang yang terheran, sebab, tak biasanya Kota Juang ini dilanda banjir. Begitu pula dengan Aceh Tengah, dengan tingkat kederasan hujan yang berbeda, sebagai wilayah yang berada di dataran tinggi.

Menjelang siang, sekitar pukul 11 atau 12, sebuah pesan terakhir sempat masuk dan menanyakan keberadaan Zia. Disusul kabar bahwa akses dari timur ke barat telah tertutup, menandakan terputusnya pula akses komunikasi Zia dan keluarga. Zia pun mencoba mencari informasi, namun di media sosial ia hanya menemukan potongan video tanpa konteks yang utuh.

Dua hari setelahnya, informasi soal terputusnya internet dan listrik di Bireuen disebabkan oleh robohnya tower listrik. Rasa cemas memenuhi dada Zia, ia merasa was-was sepanjang hari. Saat ada kesempatan, ia berusaha menghubungi kerabatnya. Namun, Zia merasa tak bisa diam begitu saja sebab jalanan menuju Bireuen sudah terputus. 

Sampai akhirnya, ia nekat mencari truk untuk pulang dan membuka donasi untuk mengantarkan bantuan yang bisa disalurkan.

Gelap, Menasah, dan SPBU yang Menyala

Setelah sampai Bireuen, Zia mendapati kota itu tenggelam dalam gelap total. gak ada tanggul lagi. udah rata kayak lapangan bola. jalanan utama udah gak bisa dilewatin. Keparahan situasi yang tak dapat terdeskripsikan membuat Zia merenung, sebab donasi yang masuk belum tentu bisa membantu para warga yang terdampak.

Mungkin, dalam kegelapan itu, masih ada warga yang punya lilin. Namun, banyak pula yang sudah mulai mengungsi. Mayoritas warga pun bergerak menuju menasah–musala desa yang biasanya dibangun lebih tinggi dari rumah. Di titik lain, SPBU berubah fungsi menjadi tempat bermalam karena hanya di sanalah genset masih menyala. 

Sampai akhirnya, Zia tiba di kampung halamannya dengan melewati lumpur yang teramat parah. Di sana, ia melihat cara warga bertahan hidup dengan kemampuan masing-masing. Ada desa yang sigap menggunakan dana desa untuk membeli bahan pokok, ada pula desa yang bingung harus berbuat apa. Ketika mendatangi sebuah menasah yang menampung ratusan pengungsi, suasananya pecah oleh tangis. 

Selama kurang lebih 4–5 hari di Bireuen, hari-harinya dipenuhi ironi yang berulang. Bantuan sebenarnya ada, tetapi cara menyalurkannya yang terhambat. Perahu karet sulit dicari, transportasi hampir tak tersedia, dan jembatan sudah tinggal reruntuhan. Namun, Zia dan kawang masih terus berusaha. Distribusi dilakukan satu per satu melalui jembatan yang sudah terputus melalui ikatan katrol dengan biaya pribadi.

“Kami nggak mikirin teknisnya dulu, yang penting bantuan sampai,” katanya.

Dari Bireuen, Zia memutuskan bantuannya tak boleh berhenti di sana. Ia melanjutkan perjalanan ke Aceh Tamiang hingga Aceh Tengah. Namun, rute yang dilalui pun tak mudah, sebab mayoritas sudah tak terdeteksi lagi oleh peta. Beberapa kali, ia harus menurunkan bantuan di tengah hujan dan jalan rawan longsor dengan berbekal arahan warga. Para warga, terlihat berjalan kaki tanpa tujuan jelas sambil membawa barang seadanya. 

Seketika, momen itu mengguncang hati Zia, yang mengubah pola pikirnya dari korban, menjadi penyintas yang terus bergerak.

Lantas, Bagaimana Situasi Perempuan dan Kelompok Rentan?

Di tengah situasi pasca bencana, perempuan kerap berada di lapisan paling sunyi. Kebutuhan spesifik mereka sering kali datang belakangan, bahkan nyaris tak terdengar. Namun, Zia selalu memastikan untuk membawa pembalut, celana dalam, dan popok yang memang sangat dibutuhkan. Meski, jumlahnya terbatas karena sembako masih menjadi kebutuhan darurat yang warga inginkan. 

Saat kami bertanya mengenai kondisi para perempuan di pengungsian, dan kekhawatiran akan terjadinya kekerasan seksual, Zia menjawab dengan lega. Di pengungsian, cara perempuan melindungi keluarganya terlihat dalam bentuk yang sangat sederhana. Zia mendengar cerita ibu-ibu yang tidur melingkar mengitari anak-anak mereka untuk melindunginya. Pemisahan ruang tidur antara laki-laki dan perempuan juga dilakukan warga sebagai langkah preventif yang patut diapresiasi karena memberi ruang aman di tengah situasi yang tidak menentu.

Yang menyedihkan, situasi perempuan hamil, kelompok disabilitas, hingga perempuan lansia nyaris tak dibedakan dengan korban lain, padahal kebutuhan mereka jelas berbeda. Banyak ibu hamil tidak terdata dengan baik dan akhirnya berbaur tanpa fasilitas khusus, sementara penyandang disabilitas kerap luput dari perhatian di tengah koordinasi yang kacau. 

Kondisi ini diperparah oleh penanganan yang tidak terstruktur serta aparat kebencanaan yang juga ikut terdampak bencana. Di beberapa titik seperti Aceh Tengah, ruang darurat bagi ibu hamil justru muncul dari inisiatif relawan dan warga, bukan dari skema resmi.

Situasi itu juga berdampak langsung pada Ibu Zia. Ia sempat mengalami tekanan darah tinggi karena berhari-hari tidak bisa tidur nyenyak, sebelum akhirnya pada hari kelima kembali ke rumah yang masih dipenuhi lumpur. Sehingga, penanganan bencana memang memerlukan keseriusan yang tinggi agar tiap kelompok minoritas tetap terjamin kesehatan dan kondisinya.

Respons Negara yang Tak Serius

Saat kita mengkritik pemerintah dari kejauhan, Zia justru mengalaminya langsung di lapangan. Kekecewaannya bukan semata karena bantuan yang datang terlambat, tetapi karena negara terlihat tidak benar-benar siap sejak awal. Ia menyaksikan warga bergerak lebih dulu, sementara sistem yang seharusnya menjadi penopang justru kebingungan menentukan langkah.

Zia bercerita bagaimana TNI menjaga sejumlah lokasi dan menyarankan agar bantuan diturunkan melalui posko mereka. Namun, saat ditanya kepastian penyaluran, mereka tak bisa menjawab banyak sebab akses jalan masih tertutup. Zia pun sempat diperingatkan soal potensi kericuhan jika distribusi dilakukan sendiri. Mendengarnya, Zia pun memilih membagikannya langsung ke warga. Karena kenyataannya, ia tidak menemukan penjarahan dan kericuhan yang dikhawatirkan. Para warga hanya mengambil barang secukupnya yang memang benar-benar mereka butuhkan.

Hadirnya TNI sejak hari pertama pun tak memiliki andil yang besar. Sebab, alat berat yang seharusnya mereka pakai untuk menghilangkan reruntuhan, tak dapat berfungsi. Helikopter yang datang hanya membawa sembako, tanpa adanya bensin, sebagai bahan bakar utama alat bekerja. Alhasil, kerja hanya dilakukan dengan tenaga manusia yang terbatas. Padahal, akses ini sangat dibutuhkan agar distribusi logistik menjadi lebih merata. Hingga akhirnya di satu desa, beras dibagi rata hanya tiga ons per rumah demi mencegah kecemburuan.

Kekecewaan Zia memuncak ketika tenda pengungsian justru berdiri menjelang kedatangan Prabowo dan para pejabat lainnya, bukan saat warga pertama kali membutuhkan perlindungan. Ia bahkan sempat mendatangi kantor gubernur untuk meluapkan keluh kesahnya, mempertanyakan mengapa daerah yang pernah mengalami tsunami besar seolah tidak menyimpan pelajaran kesiapsiagaan.

Ironi lain yang tak kalah menyakitkan adalah program MBG yang tetap berjalan tanpa kelenturan. Alih-alih mengalihkan skema menjadi dapur umum yang lebih relevan dengan kondisi darurat, mereka meminta Zia untuk mendistribusikan 2.500–3.000 paket roti dan pisang. Di tengah situasi logistik yang kacau dan kebutuhan warga yang jauh lebih beragam, pola bantuan seperti ini terasa tidak menyentuh akar persoalan. 

Trauma Itu, Bertransformasi Menjadi Sikap Apatisme

Berminggu-minggu setelah bencana, Zia merasa kelelahan secara mental. Ia mengaku sulit langsung merespons pesan orang-orang yang menanyakan keadaannya. Karena bayangan manusia tanpa nyawa yang tergeletak di mana-mana terus muncul kembali. Bahkan, ketika ada yang menghubunginya, ia pun tak ingin berkeluh kesah atau sekadar curhat. Zia hanya ingin terus membantu.

Hal serupa pun terlihat dari bagaimana warga Aceh dalam merespons bencana. Zia melihat para warga justru bertahan dengan cara masing-masing. Mereka pun tak lagi menunggu atau berharap pada bantuan. Di tengah situasi itu, emosi warga perlahan berubah menjadi simbol-simbol keputusasaan. 

“Ada yang ngeluarin bendera putih, itu tandanya mereka udah pasrah dan lelah. Ada juga bendera GAM di lokasi bencana. Itu karena mereka ingin memberi ancaman ke negara, kalau mereka ingin merdeka,” ujar Zia. Bahkan, Zia sendiri, sebagai warga Aceh, sempat merasa bahwa warga Aceh memang sedang dihilangkan eksistensinya pelan-pelan oleh negara.

Sehingga, ketika melihat warga Aceh yang mungkin tampak keras, Zia menilai hal itu bukan karena mereka tidak berperasaan. Sikap tersebut terbentuk karena terlalu sering didorong oleh situasi yang tak menentu; konflik, bencana, dan pengalaman merasa diabaikan oleh negara. Dalam kondisi seperti itu, bertahan hidup saja sudah menjadi bentuk syukur tertinggi, meski jarang  mereka ucapkan secara terbuka.

Melekatnya Sawit sebagai Komoditas Warga Aceh Tamiang

Dalam sebuah lokakarya arsitek yang diikuti setelah bencana, Zia mendengar bahwa banjir di Aceh Tamiang diperparah oleh ulah manusia itu sendiri dan juga tentunya korporasi besar. Dari diskusi itu, pembukaan perkebunan sawit secara masif perlahan mengubah bentang hutan. Sekaligus, secara menghegemoni, ia menembus pola pikir warga. Hutan yang dulu menjadi penyangga air berubah menjadi hamparan kebun, ditanam oleh perusahaan sekaligus masyarakat yang menggantungkan hidup di sana.

Ketergantungan ekonomi membuat pilihan tersebut terasa seperti jalan satu-satunya. Sawit menjanjikan panen cepat dan uang tunai yang pasti, sehingga kritik ekologis sering terdengar seperti nasihat yang mewah dan sulit dijalankan. Bahkan saat banjir datang, warga Aceh Tamiang lebih dulu berusaha menyelamatkan sawit-sawitnya. Hal ini terjadi karena sawit adalah satu-satunya sumber penghasilan paling nyata yang mereka miliki.

“Orang-orang justru menyelamatkan sawitnya saat bencana,” kata Zia.

Ironisnya, di sanalah lingkaran itu terbentuk. Sawit menjadi komoditas yang menopang kehidupan sehari-hari, tetapi pada saat yang sama berkontribusi pada kerentanan lingkungan yang memperparah bencana. Setiap tahun banjir berulang, hutan kian menyempit, dan tanah kehilangan daya serapnya. Pembangunan perkebunan sawit secara masif oleh para manusia serakah, memang hadir sebagai penolong sekaligus penyebab. Padahal, ia diam-diam ikut mengikis keamanan para warganya masa depan.

Yang mengharukan, dari bencana itu pula muncul kesadaran. Jika sebelumnya warga Aceh memaknai bencana sebagai sekadar cobaan yang harus diterima, kini mereka mulai melihat bahwa bencana juga terjadi karena perilaku manusia yang merusak alam. Pengalaman melihat kayu gelondongan dan bebatuan menghantam rumah membuat banyak orang merasa ikut andil sebagai penyebabnya.

Cara pandang ini memang tidak langsung mengubah keadaan. Tapi, ia menjadi pertanda baik dari terbangunnya kesadaran kritis mereka.

Perlunya Kesadaran, Perubahan Struktural, dan Kerja Kolektif

Bagi Zia, bencana ini menegaskan bahwa persoalan ekologi dan kesiapsiagaan tidak bisa lagi dipandang sebagai isu pinggiran. Ia melihat sendiri bagaimana kerusakan bentang alam, minimnya literasi risiko, dan lemahnya koordinasi membuat dampak bencana berlipat ganda. Karena itu, yang dibutuhkan ke depan bukan hanya respons cepat saat krisis, tetapi keseriusan negara sejak tahap pencegahan hingga pemulihan pascabencana.

Ke depannya, bantuan yang ia lakukan pun bertransformasi untuk mengatasi persoalan struktural. Zia mulai mengarahkan fokus pada penguatan pengetahuan, seperti pelatihan relawan, pemetaan wilayah rawan, hingga penyusunan sistem distribusi yang lebih jelas. Pengalaman di lapangan membuatnya sadar bahwa niat membantu saja tidak cukup. Sebab tanpa koordinasi, bantuan justru mudah tersendat dan tidak merata.

Hal yang sama ia soroti pada kapasitas aparatur desa. Desa adalah pihak yang paling mengenal kondisi warganya, tetapi kerap tidak dibekali kemampuan administrasi, logistik, dan manajemen krisis sebelum bantuan dari luar datang. Akibatnya, desa sering berada pada posisi menunggu. Padahal dalam situasi bencana, setiap jam berarti banyak bagi keselamatan dan pemulihan warga.

Karena itu, kolektivitas tak boleh hanya berhenti pada gerakan masyarakat semata. Karena solidaritas spontan tak akan bertahan, jika ia terus menjadi penyangga utama. Bagi Zia, kerja kolektif antara warga, relawan, dan negara adalah kebutuhan mendesak. Sehingga, ketika bencana berikutnya datang, yang bergerak bukan hanya empati, tetapi juga sistem yang benar-benar siap melindungi.

0 comments

Leave a Comment