Menelisik Persimpangan Ras, Kelas, Gender, dan Subteks Queer dalam Film Passing (2021)

Bayangkan hidup di tengah ketatnya era segregasi rasial, lalu kamu tiba-tiba bertemu kembali dengan teman lama yang kini telah menghapus masa lalunya dan menyamar sepenuhnya sebagai ras lain demi mendapatkan privilese sosial.

 

Film Passing (2021) merupakan adaptasi visual yang sangat setia kepada alur novel klasik karya Nella Larsen yang terbit pada tahun 1929 dengan judul yang sama. Disutradarai oleh Rebecca Hall, film ini mengambil latar belakang historis era Harlem Renaissance, serta berpusat pada pertemuan kembali dua teman masa kecil, Irene Redfield (yang diperankan oleh Tessa Thompson) dan Clare Kendry (Ruth Negga). Keduanya adalah perempuan kulit hitam berkulit terang (light-skinned), namun mereka memilih jalan hidup yang bertolak belakang demi bertahan hidup di tengah kerasnya segregasi sosial Amerika Serikat awal abad ke-20.

Irene Redfield merepresentasikan kemapanan status sosial dan ekonomi menengah ke atas di Harlem yang memberinya rasa aman sekaligus superioritas moral di hadapan Clare Kendry. Namun, begitu Clare menyusup kembali ke dalam hidupnya—sembari membawa kerinduan mendalam untuk berinteraksi dengan sesama rasnya—kenyamanan yang selama ini dibangun Irene perlahan mulai goyah. Seiring alur, kehadiran Clare seolah menjadi pengingat pahit bahwa sekat antara "kulit hitam" dan "kulit putih", atau "si kaya" dan "si miskin", sebenarnya bias. Kekayaan dan status sosial mungkin bisa membeli ruang aman, tetapi tidak pernah mampu menjamin ketenangan jiwa.

Meskipun istilah "passing" secara harfiah merujuk pada fenomena sosiologis di mana seseorang dari ras minoritas menyamar dan diterima sebagai ras dominan (kulit putih), cerita ini sebenarnya menyimpan lapisan kritik yang jauh lebih kompleks. Baik versi novel maupun filmnya menguliti bagaimana ras, kelas, gender, hingga seksualitas tidak berdiri sendiri, saling berkelindan dalam mengonstruksi, atau bahkan menghancurkan identitas seseorang.

 

Menutupi Identitas demi Privilese Kelas

Di permukaan, Passing adalah sebuah kritik tajam terhadap konstruksi rasial yang kaku di Amerika Serikat, dibangun dengan sangat apik lewat estetika visual hitam-putih yang sengaja dipilih Rebecca Hall untuk menyentil absurditas warna kulit dan kekejaman segregasi. Berpadu dengan latar suara minimalis berupa dentingan piano jazz melankolis arahan Devonté Hynes, tone yang ditampilkan justru memperdalam ketegangan psikologis para karakternya tanpa instrumen yang megah. Musik jazz hadir sebagai harmoni yang samar dan terfragmentasi; ketukan piano yang ganjil serta akor yang menggantung secara jenius mencerminkan batin Irene dan Clare yang retak, gelisah, sekaligus selalu dihantui oleh ketakutan akan runtuhnya topeng identitas yang mereka kenakan di bawah tatapan sosial yang menghakimi.

Melalui tokoh Clare Kendry, Nella Larsen sebenarnya sedang mendekonstruksi kiasan klasik tentang tragic mulatto—stereotip sastra abad ke-19 yang menggambarkan penderitaan tragis orang berdarah campuran karena terjebak di antara dua dunia. Ketika tokoh Clare memilih untuk melakukan passing secara total dan permanen; dirinya memotong ego rasialnya, menikah dengan seorang pria kulit putih yang rasis bernama John Bellew, dan menyembunyikan asal-usulnya demi mendapatkan keamanan ekonomi, pengakuan sosial, dan hak istimewa yang hanya dimiliki oleh kaum kulit putih kala itu. Bagi Clare, ras adalah sebuah performa yang bisa dimanipulasi demi kenyamanan hidup.

Di sisi lain, Irene Redfield memilih untuk tetap hidup sebagai perempuan kulit hitam di Harlem. Ia menikah dengan Brian, seorang dokter kulit hitam yang dihormati, dan aktif dalam kegiatan sosial untuk memajukan komunitasnya. Namun, Nella Larsen—dan dipertegas oleh Rebecca Hall lewat arahan visualnya—memperlihatkan bahwa passing bukan cuma mempersoalkan warna kulit, penonton bisa melihat persoalan kelas sosial dari bagaimana tokoh Irene kerap melakukan passing temporer. Meskipun mengklaim dirinya bangga akan identitas rasnya, Irene menyamar sebagai perempuan kulit putih demi menikmati fasilitas eksklusif yang diperuntukkan kulit putih, seperti saat ia meminum es teh di hotel mewah pada awal cerita. Kemewahan dan gengsi sosial ini nyatanya tidak hanya dinikmati Irene di ruang publik, tetapi juga dipelihara dengan cara yang ironis di dalam rumahnya sendiri.

Akademisi Mary Wilson lewat tulisan Working Like a Colored Person: Race, Service, and Identity in Nella Larsen's Passing (2013) meneliti karakter Zulena, seorang housemaid di keluarga Irene. Mary mengkritik tokoh Irene yang lantang menentang diskriminasi dan rasisme terhadap kaumnya, namun turut melestarikan pola perbudakan domestik, bahkan terhadap sesama perempuan kulit hitam. Warna kulit berperan mutlak dalam menentukan nasib: Zulena digambarkan "kulit berwarna mahoni", yang artinya tidak punya kemewahan untuk menyamar seperti Irene. Di sini, pertentangan kelas tidak sebatas kulit hitam versus kulit putih, tetapi juga dalam ras kulit hitam itu sendiri.

Perbedaan medium demikian mempertegas bagaimana kritik sosial disampaikan; jika versi novel mengupas kontradiksi ini secara tersurat melalui narasi batin, versi filmnya menerjemahkannya secara tersirat lewat bahasa tubuh dan gestur dingin Irene yang mengadopsi etiket kaku perempuan kulit putih dan bagaimana memperlakukan Zulena. Kontras visual dan perilaku ini memperlihatkan jurang pemisah yang membelah di dalam ras kulit hitam itu sendiri akibat perbedaan kelas sosial. Dengan posisi Zulena yang jauh lebih rentan, Irene—yang memiliki hak istimewa untuk "lolos" sebagai kulit putih—secara sadar bertingkah layaknya nyonya besar kulit putih demi mempertahankan kenyamanan status kelas menengahnya.

 

Penjara Domestik dan Queer yang Disamarkan

Jika isu ras dan kelas mendefinisikan posisi sosial di ruang publik, maka aturan gender mendikte bagaimana perempuan harus berperilaku di dalam ruang domestik. Baik Irene maupun Clare adalah korban dari ekspektasi patriarki era 1920-an yang menuntut perempuan untuk patuh, pasif, dan mengabdi penuh pada institusi pernikahan. Namun, cara keduanya merespons penjara domestik ini justru menjadi bibit ketegangan utama di antara mereka. Irene terjebak dalam perannya sebagai istri dan ibu rumah tangga kelas menengah yang perfeksionis. Dirinya terobsesi pada kontrol: rumahnya harus rapi, anak-anaknya harus terlindungi dari realitas rasisme, dan citra keluarga harus tetap terjaga (sesuatu yang ditentang oleh suaminya, Brian). Sebaliknya, Clare memilih jalan yang lebih ekstrem dan berbahaya. Kehidupan Clare adalah sandiwara konstan sebagai istri trophy di hadapan suaminya yang rasis—kebohongan yang sewaktu-waktu bisa hancur berantakan jika rahasianya terbongkar.

Peran domestik tersebut perlahan berubah menjadi ancaman eksistensial ketika Clare mulai merebut ruang domestik dan hati orang-orang di sekitarnya. Clare dengan pesonanya yang bebas dengan mudah memikat anak-anak Irene dan menjalin kedekatan yang akrab dengan Brian. Kebebasan Clare yang tanpa beban seolah menampar Irene yang selama ini hidup kaku dalam penjara aturan moralnya sendiri. Menjelang akhir cerita, Irene mulai meyakini bahwa Clare dan Brian berselingkuh di belakangnya. Namun, kecurigaan tanpa bukti ini sebenarnya adalah mekanisme pertahanan psikologis Irene sendiri. Dengan menuduh Clare dan suaminya berselingkuh, Irene secara tidak sadar sedang mengalihkan perhatian dari ketakutannya sendiri, sekaligus melindungi dirinya dari haarat seksual terlarang yang ia rasakan terhadap Clare.

Salah satu lapisan paling memikat yang diwariskan dari novel Nella Larsen adalah subteks queer yang mengalir kuat di bawah narasi utama. Di era 1920-an, menyatakan identitas queer secara terbuka adalah hal yang tabu dan berbahaya, sehingga penulis menyembunyikannya lewat metafora, deskripsi fisik yang sensual, dan tatapan mata yang intens dalam teks novel (sayangnya tidak sedikit yang melewatkan aspek ini). Nella Larsen menggunakan metafora bunga jonquil dan narsis saat Irene pertama kali melihat Clare di hotel mewah—mendeskripsikan perasaan terpikat (jika diibaratkan seperti ngengat yang mendekati api). Kontras dengan yang ditunjukkan oleh Sutradara secara samar melalui sinematografi, bahasa tubuh, dan tatapan mata Irene kepada lekuk tubuh, bibir merah, dan pesona Clare, tanpa perlu kata-kata. 

Di satu sisi, Brian justru digambarkan dingin, hubungan pernikahan yang dingin akan seks, dan ditandai dengan keputusan mereka untuk tidur di kamar terpisah. Karakter Brian pun diselimuti isyarat serupa melalui keinginannya yang menggebu-gebu untuk pindah ke Brasil—negara yang kala itu dikenal lebih toleran terhadap perbedaan ras sekaligus homoseksualitas—sebagai petunjuk tersirat mengenai orientasi seksualnya sendiri yang ikut tertekan oleh norma zaman. Seperti yang ditulis oleh sarjana Deborah McDowell dalam From Black Female Sexuality in Passing (2007), kebangkitan perasaan erotis Irene terhadap Clare bertepatan dengan imajinasi Irene tentang perselingkuhan antara Clare dan Brian. Puncaknya, rasa kagum dan hasrat queer yang terpendam di batin Irene bermutasi menjadi kecemburuan hebat yang neurotik dan destruktif; kehadiran Clare yang awalnya dinikmati sebagai pelarian eksotis berbalik menjadi monster yang mengancam kestabilan rumah tangga serta status sosial yang mati-matian Irene pertahankan, hingga gumpalan kecemburuan inilah yang memicu ketegangan psikologis mencekam di paruh akhir cerita.

 

Warisan Feminis yang Jarang Dibicarakan

Pada akhirnya, baik versi novel Passing (1929) maupun film adaptasinya (2021) dengan sangat genius memainkan isu interseksionalitas ke dalam jalinan plotnya. Jauh sebelum istilah "interseksionalitas" (irisan antara ras, gender, dan kelas) populer di dunia akademik, Nella Larsen sudah menuliskannya secara konkret melalui nasib para karakternya. Cerita ini menginisiasi nilai feminisme dengan menunjukkan bahwa perempuan kulit hitam tidak bisa memisahkan perjuangan gender mereka dari penindasan rasial serta tekanan kelas sosial. Sinematografi hitam-putih yang kontras serta rasio aspect ratio 4:3 yang sempit, film ini berhasil menangkap rasa sesak emosional dari novel Larsen. Segala bentuk penyamaran—baik secara ras, kelas, gender, maupun seksualitas—selalu meminta bayaran yang sangat mahal; Clare harus kehilangan akar budayanya dalam ketakutan, sementara Irene kehilangan kedamaian psikologisnya akibat represi hasrat yang ia sangkal demi mempertahankan superioritas moral dan kelas sosialnya. 

Sayangnya, baik novel klasik maupun film adaptasinya ini masih tergolong jarang dibicarakan oleh publik luas, walaupun sebenarnya telah banyak diteliti dan diperdebatkan di kalangan akademisi. Fenomena ini cukup ironis, mengingat karya ini merupakan sebuah warisan seni yang sangat berharga dalam sejarah kebudayaan. Ditulis oleh seorang perempuan kulit hitam pelopor era Harlem Renaissance dan kemudian disutradarai oleh seorang sutradara perempuan (Rebecca Hall), Passing adalah potret tragis tentang bagaimana manusia terpaksa memotong-motong bagian dari identitas asli mereka sendiri agar bisa muat ke dalam kotak-kotak sempit yang disediakan oleh peradaban. Karya ini kaya akan kritik sosial yang melintasi zaman dengan mengangkat kembali diskursus mengenai fenomena Passing sebagai refleksi bias ras, sekat kelas, dan kungkungan gender masih terus membayangi cara kita memandang identitas manusia hingga saat ini.

 

 

Sumber:

McDowell, DE (2007). Dari Seksualitas Perempuan Kulit Hitam dalam Penyamaran. New York: WW Norton & Perusahaan.

Wilson, M. (2013). "Bekerja Seperti Orang Kulit Berwarna": Ras, Pelayanan, dan Identitas dalam Passing karya Nella Larsen. Studi Wanita, 42(8), 979–1009. https://doi.org/10.1080/00497878.2013.830541

 

 

0 comments

Leave a Comment