“Kami belajar tentang cinta dari banyak hal, tapi kami belajar tentang pengkhianatan dari orang-orang terdekat.”
Saya tumbuh di tengah cerita perselingkuhan yang dilakukan oleh orang-orang terdekat saya. Hal itu kemudian membentuk pikiran saya bahwa cinta dapat berubah kapan saja, dan kesetiaan, tidak selalu datang bersamanya.
Hingga beranjak dewasa, obrolan tentang pernikahan membuat saya enggan menanggapi. Anehnya, teman-teman sesama generasi Z pun merasakan hal yang sama dengan saya. Bahkan diantara mengatakan enggan untuk menikah. Percakapan ini sampai ke media sosial, banyak teman-teman Gen Z merasakan hal yang sama bahkan menariknya ada survey yang mengatakan bahwa Gen Z takut menikah.
Naiknya tren ini bukan karena tidak percaya cinta. Bukan juga karena generasi ini terlalu sibuk mengejar karir. Namun, ada satu hal yang lebih sunyi, lebih dalam, dan lebih sulit untuk diakui, “takut akan penghianatan." Sampai-sampai tagar #MarriageIsScary ramai di media sosial terutama tiktok.
Generasi Z (Gen-Z) merupakan generasi yang tumbuh di tengah realitas yang berbeda. Mereka tidak hanya belajar tentang cinta dari film romantis atau nasihat orang tua, tetapi juga dari pengalaman sosial yang mereka saksikan secara langsung maupun melalui media digital.
Ironisnya, tidak sedikit dari pengalaman tersebut berbentuk luka, termasuk maraknya perselingkuhan yang kini tidak lagi menjadi cerita tersembunyi, melainkan hadir secara terbuka di ruang publik.
Kasus Perselingkuhan yang Mengkhawatirkan
Dari perspektif psikologi, pengalaman yang dirasa baik secara langsung maupun tidak langsung dalam menyaksikan konflik pernikahan hingga peristiwa perselingkuhan di lingkungan sekitar dapat membentuk vicarious trauma (Figley, 1995). Bahkan tanpa mengalaminya, seseorang tetap dapat merasakan takut yang mendalam untuk memasuki relasi yang serupa.
Kenyataan bahwa perselingkuhan ternyata dinormalisasi baik secara sosial maupun kultural. Bahkan, dalam beberapa narasi populer, perselingkuhan diposisikan sebagai sesuatu yang manusiawi, dibenarkan dengan alasan bosan, kebutuhan emosional, hiburan semata, atau bahkan kekhilafan pasangan semata. Padahal, perselingkuhan bukan sebuah persoalan yang sepele.
Dalam beberapa kajian relasi, perselingkuhan merupakan salah satu bentuk pelanggaran kepercayaan yang paling signifikan (Glass & Wright, 1992). Bahkan, dalam praktiknya, perselingkuhan tidak hanya menjadi persoalan moral, tetapi juga menyentuh dimensi hukum dan gender. Dalam perspektif gender, perselingkuhan seringkali tidak terjadi dalam ruang yang setara. Relasi yang timpang dapat menciptakan pola dominasi, di mana laki-laki cenderung lebih “dimaklumi” ketika melakukan perselingkuhan, sementara perempuan, baik sebagai pasangan maupun pihak ketiga lebih sering disalahkan dan distigmatisasi.
Bahkan, dalam banyak kasus, perselingkuhan kerap dibingkai sebagai konflik antara perempuan versus perempuan. Istilah “pelakor” (perebut laki orang) memperkuat narasi seolah-olah perempuan lain adalah pihak utama yang bersalah, sementara laki-laki sebagai pelaku justru sering luput dari sorotan.
Ketika perselingkuhan terjadi, perempuan sering didorong oleh lingkungan sosialnya untuk menahan dan memaafkan demi menjaga keutuhan rumah tangga. Meskipun dalam hukum positif di Indonesia telah tersedia mekanisme perlindungan bagi korban, hak untuk mengajukan gugatan cerai pada praktiknya tidak sederhana—baik secara emosional, sosial, maupun ekonomi.
Akibatnya, banyak perempuan memilih bertahan dalam relasi yang tidak sehat, bukan karena keinginan, melainkan karena minimnya dukungan untuk keluar. Di sisi lain, dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), perzinahan memang diatur, namun penerapannya terbatas karena merupakan delik aduan yang bergantung pada laporan pihak yang dirugikan. Kondisi ini menunjukkan adanya jurang antara norma hukum dan praktik sosial yang berlangsung; ketika hukum tidak mampu sepenuhnya menjamin penindakan pelanggaran dalam relasi personal, maka rasa aman dalam institusi pernikahan pun turut tergerus.
Ada Faktor Struktural Generasi Z Takut Menikah
Penurunan angka pernikahan tidak dapat dilepaskan dari faktor struktural seperti ketidakstabilan ekonomi dan perubahan nilai sosial terhadap institusi keluarga. Dalam penelitian Alexandra (2016), pengalaman menyaksikan relasi yang tidak sehat memang berkontribusi terhadap kehati-hatian Gen Z dalam menikah, namun bukan merupakan satu-satunya faktor.
Berbeda dengan generasi Milineal, Arnett (2000) menjelaskan bahwa generasi milineal cenderung menunda pernikahan karena faktor transisi pendidikan dan karier sementara Gen Z pada kenyatannya menghadapi kondisi yang lebih kompleks yakni ketidakpastian ekonomi, tekanan sosial digital, dan meningkatnya kesadaran terhadap kesehatan mental dan relasi yang setara.
Tingginya kebutuhan hidup membuat banyak generasi Z memilih untuk menunda atau tidak menikah. Penelitian Pratiwi & Kumaini (2025) menjelaskan fenomena sandwich generation turut memperparah tekanan ekonomi, karena individu harus menanggung kebutuhan diri sendiri sekaligus membantu orang tua, bahkan hingga 70–80% kebutuhan keluarga, sehingga pernikahan seringkali dianggap sebagai beban tambahan yang sulit dipenuhi.
Di sisi lain, harga hunian yang tidak lagi sebanding dengan pendapatan, juga berkontribusi terhadap penurunan angka pernikahan. Jurnal penelitian ko, Jeremy et., al (2026) menunjukkan bahwa ketidakmampuan mengakses perumahan yang terjangkau berkorelasi signifikan dengan menurunnya angka pernikahan karena individu merasa belum siap secara ekonomi untuk membangun rumah tangga .
Selain itu, pernikahan dalam praktiknya masih menitikberatkan perempuan pada pekerjaan domestik dan kerja perawatan yang tidak dibayar. Ketika menikah dan memiliki anak, beban pengasuhan tetap lebih banyak dilekatkan pada perempuan. Kondisi ini tidak hanya membuat perempuan menunda pernikahan, tetapi juga mendorong sebagian untuk memilih jalan hidup childfree sebagai bentuk negosiasi terhadap beban dan ekspektasi yang tidak setara dalam institusi keluarga.
Kenyataan Cinta Saja Tidak Cukup dalam Menopang Pernikahan
Dahulu, terdapat frasa dimana cinta dianggap merupakan fondasi utama yang cukup dalam menjalani kehidupan pernikahan. Dengan cinta, maka semua dapat diatasi bersama. Namun, hari ini, cinta saja terasa tidak cukup. Kenyataannya cinta tidak selalu menjamin kesetiaan. Ditambah lagi, perasaan pada akhirnya tidak selalu mampu mengalahkan pilihan.
Dalam realitasnya, pernikahan bukan hanya tentang dua manusia yang saling mencintai. Lebih dari itu, pernikahan adalah tentang mereka yang sama-sama memilih untuk menjaga komitmennya setiap saat, dalam berbagai kondisi, bahkan saat perasaan tidak lagi seindah dan menggebu-gebu saat hubungan romansa baru dimulai.
Gen Z merupakan generasi yang tumbuh dalam zaman dengan pilihan hidup yang meragam. Menikah, bukan lagi satu-satunya jalan untuk mencapai kebahagiaan, apalagi hanya sebagai validasi sosial. Pada situasi ini, pernikahan sudah berjalan berdampingan dengan pilihan hidup lainnya seperti karir, pendidikan, kebebasan personal, bahkan kesehatan mental. Jika pernikahan tidak dapat menawarkan rasa aman baik secara emosional maupuna struktural, maka wajar saja pernikahan bukan lagi sebuah prioritas di kalangan Gen Z.
Maka, penting untuk memahami bahwa tren “Malas Nikah” ala Gen Z bukan merupakan penolakan terhadap pernikahan itu sendiri. Fenomena ini merupakan sebuah bentuk penundaan, yang sebenarnya adalah upaya untuk memastikan bahwa keputusan yang diambil untuk mengikatkan diri dalam suatu komitmen sakral tidak berujung pada penyesalan seumur hidup.
Di balik tren “Malas Nikah” ala Gen Z, tersembunyi perspektif kompleks daripada sekedar keengganan mereka untuk berkomitmen. Tren ini merupakan refleksi dari pengalaman kolektif, luka yang tumbuh terserap dalam hidup mereka, dan harapan yang sebenarnya sering dinegosiasikan ulang dengan diri sendiri secara diam-diam. Pada akhirnya, Gen Z tidak sedang menjauh dari pernikahan, namun sedang sibuk mendefinisikan ulang arti dari komitmen itu sendiri. Dalam dunia yang semakin jujur dan terbuka tentang luka, ini bukanlah sebuah tanda kelemahan, melainkan sebuah bentuk keberanian.
0 comments