Film The Odyssey (2026): Apakah Sebaris Dialog Tak Cukup Bikin Penelope Merdeka?

Beredar cuplikan ucapan Penelope terkait “empty throne” yang diduga improvisasi dari Anne Hathaway. Apakah sebaris dialog bernada empowerment cukup untuk membebaskan Ratu Penelope dari belenggu patriarki?

 

Mitologi Yunani klasik kerap diagungkan sebagai pilar peradaban Barat yang sarat akan nilai kepahlawanan, walaupun melalui kacamata modern, legenda ini sebenarnya menyimpan ironi. Sebut saja pemicu Perang Troya yaitu pemboyongan paksa seorang perempuan—atau mengklaimnya sebagai "hadiah"—hanya karena dewa menyebutnya sebagai yang tercantik di dunia; Helen tidak pernah diperlakukan sebagai manusia yang utuh dan memiliki agensi atas dirinya sendiri. Menyusul kisah mengerikan saat Agamemnon tega mengorbankan putri kandungnya sendiri, Iphigenia, demi menenangkan dewi Artemis hanya agar angin berhembus memuluskan jalan ribuan pasukan yang terikat Sumpah Tyndareus—janji antarlelaki demi membela gengsi suami Helen yang terpilih. 

Absurdnya, industri perfilman global seolah tidak pernah bosan mengulang-ulang narasi patriarkal ini. Sempat muncul harapan besar saat mengetahui Christopher Nolan—sineas ternama yang menggarap The Odyssey (2026), sekaligus proyek berbiaya fantastis $250 juta (sekitar Rp4 triliun) yang mengangkat kisah berlatar sepuluh tahun pasca-Perang Troya tentang obsesi seorang pria untuk pulang ke rumah. Harapan itu kian membumbung saat beredar cuplikan Anne Hathaway sebagai Penelope yang melempar kalimat improvisasi—"Empty throne? I’ve been sitting on this empty throne for 20 years!". Tidak sedikit Netizen yang mengharapkan dekonstruksi emosional: narasi kepulangan yang tak lagi sekadar mengagungkan hegemoni laki-laki, serta memberi ruang humanis dan agensi yang nyata bagi karakter perempuan seperti Penelope.  

  

Menyoal Tokoh Penelope Versi Anne Hathaway

Film ini dibuka tepat setelah Perang Troya usai dan Odysseus tak kunjung pulang. Hilang berlayar selama sepuluh tahun pasca-perang—yang membuat total ketidakhadirannya genap dua dekade—membuat kerajaan Ithaka didatangi rombongan pelamar (suitors). Posisi istrinya, Penelope, beserta tahtanya, mendadak dianggap sebagai rebutan. Rumah Penelope diinvasi, hartanya dikuras, dan ia terus-menerus ditekan seolah-olah seorang perempuan adalah entitas yang rapuh, "tidak lengkap" dan tidak bisa berdiri sendiri tanpa penguasaan tubuh laki-laki.

Di titik ini, martabat Penelope serupa dengan Helen yang diperjualbelikan tak ubahnya piala bergilir. Keberadaan Penelope sebagai Ratu Ithaka sama sekali tidak diakui sebagai pemegang kekuasaan yang sah, gengsi para pelamar diukur dari seberapa agresif mereka menduduki istana, memperlihatkan bagaimana perempuan semata-mata diabdikan untuk memvalidasi legitimasi dan kekuasaan maskulin. Walaupun dalam kosmologi Yunani klasik terdapat posisi dewi-dewi yang dianggap lebih tinggi dari manusia, perempuan fana di bumi tak ayal tetap direduksi sebatas objek pelengkap dan arena penaklukan bagi ego laki-laki.

Di sisi lain, improvisasi dialog yang diperankan oleh Anne Hathaway, seolah memberi taring pada dan meruntuhkan stereotip bahwa tokoh Penelope hanyalah istri pasif yang meratap di balik alat tenun. Netizen menyambut momen ini sebagai simbol perlawanan Ratu Ithaka yang secara sadar mengklaim bahwa dialah pemegang kekuasaan yang sebenarnya selama dua dekade terakhir. Namun, apakah kita boleh langsung puas hanya dengan retorika verbal yang terdengar berani ini? Jawabannya tentu tidak. 

Bukan hal baru industri hiburan kerap mencoba merevisi naskah agar terkesan lebih ramah feminisme, padahal rentan menjadi "kosmetik” atau commodity feminism di permukaan tanpa benar-benar merombak struktur yang mendasarinya. Jika pada akhirnya Penelope versi Nolan tetap melakukan sayembara kepada para pelamar—sedangkan cerita di babak-babak sebelumnya berpusat kepada Odysseus yang digambarkan heroik—kalimat yang diucapkan Penelope ini tak ubahnya sebagai pemanis dan menjadi kontradiktif ketika alur cerita utamanya tetap berjalan secara konvensional dan tunduk pada logika mitos patriarkal

Bagaimana Lensa Feminis Memandang Teks Klasik

Perspektif dan peneliti feminis memberi panduan penting agar kita tidak mudah terkecoh oleh revisionisme dangkal semacam ini. Dalam bukunya yang monumental, The Female Eunuch (1970), Germaine Greer mengingatkan bahaya jebakan "pemberdayaan buatan" di mana ruang gerak perempuan dipoles seolah-olah memiliki daya, padahal secara riil hak politik dan agensinya tetap lumpuh oleh sistem. Mitos asli The Odyssey sengaja dikonstruksi untuk memelihara tatanan patriarki, yang mana kepemimpinan perempuan selalu dianggap sebagai kondisi darurat sementara (interregnum) hingga penguasa laki-laki kembali mengambil alih.

Kritik ini makin dipertegas oleh Mary Beard, Profesor Studi Klasik Universitas Cambridge, lewat esainya Women & Power: A Manifesto (2017). Sejarah sastra Barat sejak masa Homer kerap membungkam suara publik perempuan lewat penggambaran dan minimnya keterlibatan tokoh perempuan. Dalam versi aslinya, ketika Penelope meminta penyanyi istana mengganti lagu yang menyedihkan, Telemachus muda justru menyuruh ibunya diam dan kembali ke ruang tenunnya seraya menegaskan bahwa berbicara di ruang publik (muthos) adalah urusan laki-laki. Sejak awal, hak bersuara di ruang publik didefinisikan sebagai penanda utama maskulinitas, sehingga perempuan yang bersuara dianggap melanggar norma. Berangkat dari pola pembungkaman ini, Beard menilai tindakan Penelope yang akhirnya menggelar sayembara pemanah adalah bentuk kepasrahan yang terkondisikan, bukan bentuk pilihan bebas (agency).

Para peneliti feminis juga mengkritisi standar ganda yang sangat manipulatif terkait konsep "kehormatan" di naskah klasik Yunani ini. Adrienne Rich dalam tulisan Of Woman Born (1976) turut menyoal bagaimana institusi patriarki mengontrol tubuh dan kesetiaan perempuan. Odysseus diizinkan berkelana, berhubungan dengan dewi-dewi seperti Circe dan Calypso, serta membantai puluhan orang tanpa kehilangan status pahlawannya. Sebaliknya, kesucian dan kesetiaan Penelope terus-menerus diuji dan dicurigai. Nilai seorang Penelope hanya diakui sejauh ia mampu menjaga tubuhnya sebagai "properti" milik Odysseus yang tidak tersentuh.

 

Modal Raksasa Hanya Memoles Ulang Patriarki Kuno

Meskipun Penelope dianggap menggunakan kecerdasannya untuk mengulur waktu—seperti menenun dan membongkar kain Laertes—pilihan akhirnya untuk menyerahkan tahta lewat sayembara menunjukkan betapa terbatas dan sempitnya ruang gerak perempuan dalam sistem politik patriarki. Ini adalah cermin betapa absurdnya budaya patriarki kuno yang menempatkan tubuh dan hak perempuan di bawah ketakutan serta gengsi laki-laki, yang kini kembali diproduksi secara masif lewat industri film demi menjual romantisisme perang.

Penggelontoran dana raksasa ratusan juta dolar oleh Nolan menjadi ironis ketika modal sebesar itu hanya dipakai untuk memoles ulang nilai klasik yang sarat akan penindasan gender, serta keberadaan aktor transgender sebagai cameo. Oleh karena itu, menikmati re-interpretasi mitologi klasik hari ini menuntut kita untuk tetap kritis dan tidak mudah terpesona oleh polesan bahasa serta sinema. Ketiadaan perombakan pada tatanan struktural cerita hanya memperjelas bagaimana narasi maskulinitas rapuh masih terus dilanggengkan; tanpa dekonstruksi radikal terhadap alurnya, kutipan hebat dari sosok Penelope versi Anne Hathaway hanya akan berakhir sebagai hiasan tentatif di dalam ruangan patriarki yang besar dan belum benar-benar runtuh.

 

Sumber:

Beard, M. (2017). Women & Power: A Manifesto. Profile Books.

Greer, G. (1970). The Female Eunuch. MacGibbon & Kee.

Rich, A. (1976). Of Woman Born: Motherhood as Experience and Institution. W. W. Norton & Company.

 

 

0 comments

Leave a Comment