Fenomena Influencer: Pekerjaan yang Membebaskan atau Memberatkan?
Di tengah masifnya penggunaan media sosial, selalu ada peluang untuk mencari cuan untuk menghidupi diri. Ekonomi yang mencekik, situasi politik yang semakin pelik, ditambah peluang kerja yang minim membuat banyak orang memilih alternatif lain untuk bekerja. Salah satunya menjadi influencer—yang kalau saya bilang, terjemahan Indonesianya memiliki makna yang sangat berat; pemengaruh.
Menjadi “pemengaruh” berarti memiliki kemampuan untuk membentuk selera, opini, bahkan cara orang memandang dirinya sendiri. Mereka membagikan pengalaman dan pengetahuan—yang sebenarnya sangat terbatas, namun dapat dikonsumsi secara luas. Dari rekomendasi produk hingga cara menjalani hidup, batas antara pengalaman personal dan kepentingan komersial pun kini menjadi semakin kabur.
Janji Kebebasan yang Ditawarkan
Persona yang kini influencer perlihatkan seperti memberikan gambaran bagaimana kehidupan ‘ideal’ itu seharusnya berjalan. Tidak perlu bangun pagi dan berdesak-desakan menuju kantor. Tidak perlu patuh dengan atasan. Bahkan, tidak selalu diperlukan ijazah atau sertifikasi tertentu. Cukup membuat konten, mengumpulkan pengikut, menjaga engagement, lalu perlahan mengubah perhatian menjadi penghasilan.
Maka, tak heran jika kehadiran influencer kini layaknya wabah yang merangsak hingga pelosok-pelosok negeri. Di tengah pasar kerja yang semakin sulit, hidup sebagai influencer seolah menawarkan kebebasan. Bahkan, kehidupan sesederhana makan, bisa mereka manfaatkan. Setelah itu, mereka dapat menjalani hari-harinya dengan waktu yang lebih luang. Sementara uang akan menghampiri dengan sendirinya, tanpa bersusah payah mengirimkan ribuan lamaran kerja.
Situasi ini, didukung dengan kehadiran media sosial dan penggunanya yang kian masif. Menurut Khamis, dkk. (2016) media sosial mendorong individu untuk membangun dirinya seperti sebuah merek. Seseorang perlu memiliki identitas yang khas, mudah dikenali, dan menarik bagi audiens agar dirinya memiliki nilai komersial. Namun, situasi ‘khas’ ini yang saya lihat memiliki paradoks.
Baca Juga: Abang-Abangan Kiri yang Sok Progresif: Berisik Soal Isu, Nyaman Jadi Pelaku
Ironisnya, kebanyakan influencer sekarang memiliki persona yang serupa, sehingga kebebasan itu sebenarnya perlahan mulai kabur. Mereka harus terus memikirkan bagaimana dirinya dapat dikemas, dipertahankan, dan dijual kepada audiens. Bahkan, dalam kondisi tertentu, tuntutan untuk mempertahankan perhatian dapat mendorong seorang influencer melakukan hal-hal yang sebelumnya mungkin tidak akan ia lakukan—termasuk tindakan yang bermasalah secara etis tanpa memikirkan konsekuensi kelompok terdampak.
Sehingga, yang dapat saya katakan dalam situasi ini adalah: kebebasan itu semu. Namun, kehilangan diri dan ketumpulan menggunakan akal serta hati itu nyata adanya.
Realitas Kerja yang Timpang
Beberapa kali, saya pernah melihat tarif seorang influencer untuk satu unggahan, satu video, atau satu kali promosi. Tentu, angkanya berbeda sesuai levelnya, dari mikro hingga mega. Namun, tetap saja saya membatin, “Benarkah mereka layak dibayar sebanyak itu? Atas dasar apa dan kemampuan apa?”
Dari luar, pekerjaan itu memang terlihat sederhana. Namun saya memahami pula, di baliknya ada proses kompleks. Meski begitu, saya tetap menilai harga yang ditawarkan tak sebanding dengan pekerjaan lainnya di luar sana. Influencer dengan jutaan pengikut dapat memperoleh bayaran besar (hingga ratusan juta!) untuk satu unggahan, sementara pekerjaan lain yang menopang kehidupan kita belum tentu mendapatkan penghasilan sepadan—meski sudah bertahun-tahun membangun keahlian.
Pengajar mencerahkan para siswa tanpa henti. Perawat dengan sepenuh hati merawat pasien. Peneliti menghabiskan bertahun-tahun menghasilkan pengetahuan. Pekerja sosial mendampingi masyarakat. Petugas sampah memastikan lingkungan kita tetap bersih. Bahkan, jika diakumulasikan—upah dari pekerjaan mereka pun masih tak sebanding dengan jumlah perhatian maupun upah yang didapatkan influencer.
Saya jadi bertanya-tanya: sebenarnya, sekarang apa yang sedang dihargai pasar?
Perhatian yang mereka dapat lantas dikonversi menjadi uang dengan mudah, sementara kerja-kerja yang menopang kehidupan justru sering dihargai rendah. Ironisnya pula, mereka dengan upah minim pada akhirnya turut berupaya menjadi influencer untuk mendapat penghasilan tambahan. Bahkan, ketika mereka sebenarnya tak ingin menjadi influencer, namun tuntutan untuk terus mencari tambahan penghasilan memaksa mereka masuk ke dalam permainan yang sama.
Efek domino turut berlanjut pada korporasi. Jumlah pengikut dan engagement diperhitungkan dalam menentukan besaran endorsement—yang kecil mungkin hanya menerima barter produk, sementara yang besar dapat memiliki daya tawar untuk menentukan tarifnya sendiri. Dengan berani, mereka dapat menggelontorkan dana fantastis untuk seorang influencer, sementara pada saat yang sama, pekerjanya sendiri belum tentu mendapat upah yang layak.
Popularitas yang Mengalahkan Kompetensi
Persoalan influencer pun tak berhenti pada uang. Ketika menjadi seorang pemengaruh, mereka otomatis memiliki otoritas sesuai dengan yang mereka personakan. Influencer kecantikan sering kali berbicara tentang kesehatan kulit. Influencer kebugaran berbicara tentang tubuh dan nutrisi. Influencer finansial berbicara mengenai investasi. Influencer parenting berbicara tentang perkembangan anak. Dan kita, mulai mendengarkan apa yang mereka katakan karena merasa memilik kedekatan.
Yang saya lihat, mereka kerap menggunakan bahasa sehari-hari, bercerita tentang pengalaman personal, dan menyampaikan sesuatu dengan cara yang jauh lebih mudah dicerna daripada bahasa akademik atau profesional. Para pengikutnya pun senang karena mereka tak merasa sedang mendengarkan seorang “ahli” yang berdiri di depan kelas maupun ruang-ruang formal.
Baca Juga: Ungkapkan Kemarahan Tanpa Mereproduksi Bahasa yang Merendahkan
Tentu saja, pengalaman personal bukan sesuatu yang tak memiliki nilai. Bagi feminis sendiri, jargon “the personal is political” membuktikan bahwa pengalaman seseorang dapat menjadi pengetahuan yang penting, terutama ketika ia berbicara mengenai sesuatu yang memang dialaminya sendiri. Namun, persoalan pun perlahan muncul ketika pengalaman tersebut diperlakukan sebagai kepakaran—ketika “saya pernah mengalami” perlahan bergeser menjadi “maka saya tahu”.
Ia pun tampak dalam ekosistem influencer kita saat ini yang kemudian perlahan menjadi knowledge monopolies. Figur-figur yang memperoleh popularitas melalui media sosial tersebut dapat mengambil posisi sebagai quasi-expert, termasuk dalam bidang yang sebelumnya lebih banyak ditempati oleh para spesialis seperti dokter, ahli gizi, dan ilmuwan lainnya (Khamis, dkk. 2016).
Sayangnya, keahlian yang tak mumpuni, didukung oleh relasi dengan pengikutnya turut menjadi celah bagi para brand. Ekinci, dkk. (2025) menunjukkan influencer dapat mengeksploitasi kepercayaan pengikut untuk mempromosikan produk yang berisiko. Misalnya, influencer wellness yang membagikan pandangan antivaksin tanpa dasar ilmu yang jelas—sementara jika wabah muncul ia dapat kabur dengan bebas, namun tidak dengan audiensnya yang telah terpengaruh dalam kondisi terjepit kemiskinan.
Dari Menjual Produk hingga Perasaan
Saat mengikuti seorang influencer, tanpa sadar kita turut melihat kesehariannya; apa yang dimakan, ke mana ia pergi, apa yang dibeli, bagaimana mereka berpakaian, hingga bagaimana mereka menjalani hubungan dan kehidupan keluarga. Begitu pula gigihnya kita dalam mengikuti drama yang terjadi, membeli produk yang direkomendasikan, melakukan subscribe ke akunnya, dan dalam situasi tertentu bahkan merasa perlu membela mereka.
Ketika orang-orang melayangkan kritik atas gaya hidup mereka yang seharusnya tak menjadi sembahan, para pengikut mereka justru membela dengan kata-kata seperti “Suudzon aja”, “Iri bilang bos”, “Dia kan udah kerja keras”, atau “Kalau mau seperti dia, ya kerja!”. Padahal, sebagian kritik tersebut justru mempertanyakan ketimpangan yang terjadi di tengah masyarakat. Mengapa seorang influencer dapat dengan mudah menghamburkan uang dan mempertontonkan kehidupannya, sementara kita dengan mudahnya terpikat, bahkan membela mereka—hanya karena kedekatan emosional yang terbangun melalui layar?
Pernahkah kita berpikir: harus sampai kapan kita bekerja untuk menjadi seperti mereka? Daripada menuliskan “Ya Allah semoga aku juga ketularan rezeki ?” yang justru membungkus positivisme dan sentimentalitas semu. Karena nyatanya, kehidupan yang mereka tampilkan tidak serta-merta dapat kita capai. Kenapa pula kita mau repot-repot menekan subscribe untuk menonton kehidupan mereka dari sisa-sisa gaji yang mungkin bahkan belum cukup untuk kehidupan esok hari?
Karena dari pikiran-pikiran kritis itu, kita dapat mendobrak dinding yang selama ini melindungi influencer dari zona nyamannya. Apalagi, pengaruh tersebut juga dapat masuk ke ranah politik. Pada Pilpres 2024, influencer dan pengguna media sosial menjadi bagian dari ekosistem komunikasi politik yang bertanggung jawab atas terpilihnya rezim saat ini.
Saya ingat sekali, setelah debat ketiga, beredar sejumlah video influencer maupun buzzer yang menangis atau menunjukkan kesedihan terkait respons Prabowo yang tak kompeten. Orkestrasi yang sempat dibantah itu, menunjukkan bahwa sisi emosional mayoritas warga kita lagi-lagi digunakan oleh tokoh politik yang memang sedang mengejar kursi kepemimpinan.
Alih-alih mengajak audiens hanya membicarakan substansi debat, para influencer ini justru hadir dengan memanipulasi perasaan; seseorang dianggap diserang, dikasihani, dicintai, atau harus dibela. Dan celakanya, kita pun kembali mengulang siklus yang sama. Kita lebih sibuk membela hidup influencer, alih-alih mempertanyakan dan menuntut kehidupan kita yang jalannya kian stagnan. Kepada rezim, maupun influencer yang turut bertanggung jawab atas kehancuran yang menimpa bumi pertiwi.
Social Media Kami