Cerita dari Industri Novel Daring: Menulis Karakter Laki-laki Emosional Dianggap Menye-menye
Sejak aktif menulis dari tahun 2022 hingga saat ini, hal yang paling menyenangkan selama menulis adalah mendapatkan balasan dari editor, entah di dalam kompetisi online atau pun dalam tulisan yang saya kirim di beberapa media. Bagi saya, revisi itu proses pembelajaran penting supaya seorang penulis bisa mengembangkan sudut pandang. Menurut saya, bukan hanya kemampuan riset dan penyusunan kata saya yang diuji, tetapi saya juga bisa belajar dari perspektif lain.
Jalan menjadi penulis di Indonesia memang tidak mudah, dan selalu menemukan paradoks yang sangat personal, sekaligus politis. Novel pertama saya pun tidak luput dari kritik, baik opini maupun dalam bentuk pertanyaan editor dari penerbit semi mayor. Pertanyaan untuk memastikan apakah novel pertama saya memang ingin menceritakan karakter-karakter queer. Saya mengiyakan, bukunya tetap dicetak, dan saya bisa merefleksikan kesalahan novel pertama ini yang tidak boleh saya lakukan lagi melalui resensi beberapa teman bookstagrammer, saya bisa merefleksikan kekurangan yang tidak ingin saya ulangi.
Setiap platform memiliki sistem, kepentingan, dan batasan yang berbeda dan tidak semuanya memberi ruang yang sama untuk eksplorasi. Tetapi pada akhir 2024, saya menerima satu jenis revisi dari editor platform novel daring yang terasa mengekang kebutuhan saya untuk mengeksplorasi kompleksitas karakter fiksi laki-laki.
Ketika Kerentanan Laki-laki Mudah Sekali Dicap Menye-menye
Pada platform yang kerap mengadakan lomba daring, menang atau tidaknya sebuah tulisan sering kali ditentukan oleh metrik non-literer—apakah novel telah dipublikasikan di media sosial, seberapa banyak views dan likes yang diperoleh. Kenyataannya, praktik menulis di platform berbayar tidak hanya berhadapan dengan apa yang disebut sebagai “selera pasar”, melainkan dengan permintaan yang telah dikonstruksi dan dikategorisasi oleh korporasi situs novel daring.
Kategorisasi ini memang kerap dibenarkan atas nama permintaan pasar, namun pada saat yang sama korporasi juga secara aktif menyuplai dan membentuk selera tersebut. Tanpa disadari, relasi ini menciptakan lingkaran produksi dan konsumsi yang tidak netral, di mana selera pasar dilanggengkan melalui logika korporasi—termasuk reproduksi narasi dan imajinasi yang berakar pada nilai-nilai patriarkal.
Contohnya, NiceReading (tentunya, nama penerbit ini saya samarkan) mengarahkan saya yang memlilih genre romansa male book untuk konsisten menulis tokoh utama pria dominant-centered, 80% berfokus pada identitas dan kekuasaan, sedangkan romansa tidak boleh lebih dari 10%. Editor menyebut pembaca sangat sensitif jika cerita melenceng dari ekspektasi genre. Bahkan sebelum saya bergabung, beberapa akun penulis diblokir oleh pembaca atas persetujuan platform novel.
Dalam situasi sosial-ekonomi yang mendorong hobi untuk dimonetisasi, penulis kerap terjebak pada pilihan semu; bertahan pada kebutuhan mengasah kreativitas, atau tunduk pada logika pasar.
Sejak awal saya bergabung NiceReading, saya sudah tertarik dengan genre male book karena sudah lama terinspirasi oleh Othello karya William Shakespeare. Singkatnya, saya ingin membuat novel metropop berlandaskan pesan moral Othello, seperti film 10 Things I Hate About You yang merupakan versi modern dari Taming of The Shrew (drama ciptaan Shakespeare juga) sekaligus fenomena pop culture. Berikut premis novel, yang sama sekali belum saya lanjutkan, supaya teman-teman memahami penyebab cerita maupun karakter laki-laki karya saya dinilai tidak memenuhi standar.
“Odrey Salman, 25 tahun. seorang presdir stasiun TV SRA sekaligus Host Talkshow Stay Real with Odrey, menikahi Cindy, anak tunggal dari dewan direksi Production House Sorority yang menaungi SRA. Kecintaan Odrey pada kemampuannya mewawancarai orang-orang masih menyala bahkan saat menjelang pensiun. Namun, kabar dari adiknya, Santiago, tentang perselingkuhan istri dan sepupu kesayangan Odrey yang akan menggantikan posisinya, Daiva, membuat Odrey memperpanjang masa jabatannya sebagai presdir. Daiva yang difitnah kebingungan karena keputusan tiba-tiba Odrey dan tidak terima, Daiva bahkan terus menerus meminta bantuan lewat Cindy.”
Saya belum sempat mendiskusikan outline–perjalanan karir dan dominasi Odrey sehingga egonya tidak terima pengkhianatan istrinya–karena untuk standar awal kategori buku untuk pria di platform itu saja belum layak. Saya tidak mengerti dominasi seperti apalagi yang harus saya tunjukkan dari karakter Odrey untuk editor.
Othello sendiri bercerita tentang identitas jenderal bernama Othello yang tengah berkuasa, tapi mudah tertipu oleh hasutan perwira bawahnya (Iago) kalau istrinya berselingkuh dengan letnan sekaligus sahabatnya, Cassio. Walaupun kenyataannya tidak demikian, dan saya hendak mengubah tema 'menguasai dengam cemburu buta bisa menggerogoti kewarasan seorang pria' dengan latar dunia talkshow.
Saya belum sempat mendiskusikan rincian outline yang masih saya garap, tetapi editor sudah menganggap premis tersebut tidak sesuai male book. Begitu saya ditolak, rasa takut akan premis dan karakter saya terlalu terbaca patriarkis langsung sirna, karena ternyata Odrey dicap menye-menye oleh editor tersebut.
Kalau saya pikir-pikir lagi, keputusan bertindak brutal (membunuh istrinya) karena cemburu buta itu termasuk salah satu bentuk maskulinitas, yakni kepercayaan diri atas komitmen yang dirusak, sehingga beraksi agresif untuk mengontol apa yang bisa dikontrol. Control freak-nya itu yang saya ingin emphasize sebagai salah satu kelemahan karakter. Terkadang pembaca membeli bacaan karena cerita, atau salah satu kekurangan karakter membuat pembaca merasa relevan dan mencari tahu.
Maskulinitas adalah Konstruksi Sosial, bukan Sifat Biologis
Setelah membaca The Will to Change karya bell hooks, saya memahami bahwa kemarahan adalah satu-satunya emosi yang dilegalkan bagi laki-laki dalam masyarakat patriarkal, bahkan ketika berujung pada kekerasan. Kritik editor terhadap diksi saya menegaskan bahwa persoalannya bukan kedalaman karakter, melainkan ekspresi emosi manusiawi yang tidak dianggap sah dalam kerangka maskulinitas genre di platform tersebut.
Melalui pemikiran Carl Gustav Jung, Feminin dan Maskulin diposisikan secara hierarkis dan dilekatkan pada jenis kelamin, dengan perempuan diasosiasikan pada Feminin dan laki-laki pada Maskulin. Konsep anima dan animus memang menawarkan pembacaan psikis, tetapi sekaligus mempertahankan dikotomi problematis antara emosi–rasionalitas dan ketidaksadaran–kesadaran yang dilekatkan secara kaku pada gender.
Pemikir pasca-Jungian kemudian mengkritik pendekatan ini dengan menegaskan bahwa Feminin dan Maskulin bukan sifat bawaan biologis, melainkan gaya keberadaan manusia yang dapat dialami oleh siapa pun. Dominasi maskulinitas yang tunggal justru menunjukkan identitas yang rapuh, karena hanya dapat bertahan dengan menegaskan batas oposisi gender dan menyingkirkan ekspresi emosional yang sejatinya manusiawi.
Sifat Maskulinitas pada laki-laki “laku” di beberapa platform novel daring. Fenomena ini bisa menjadi dilema pada sebagian penulis yang mungkin sedang berusaha mengurangi trauma akan kontrol maskulinitas. Hal ini bisa membuat sebagian penulis pada dilema, terutama mereka yang sedang berusaha melepaskan diri dari kontrol maskulinitas kaku yang selama ini membentuk relasi kuasa, tubuh, dan emosi.
Merepresentasikan Ulang Maskulinitas
Dalam konteks budaya Indonesia juga seringkali ada standar maskulinitas yang dianggap “tepat.” Citra laki-laki yang dominan nan kaku pada norma sosial kerap dipromosikan di media serta institusi. Misalnya, peringatan KPI terhadap penampilan feminin Kak Ivan Gunawan di televisi menunjukkan sebagian besar masyarakat masih merasa bahwa laki-laki harus tampil dan berperilaku dengan cara tertentu agar dianggap sah.
Teguran tersebut berasal dari banyaknya aduan tidak berdasar bahwa laki-laki yang berpenampilan feminin sudah pasti tergolong komunitas queer. Fenomena Kak Ivan Gunawan meninggalkan acara televisi Brownis ini bukan hanya soal preferensi estetika, tetapi juga bentuk tekanan sosial yang membuat ruang ekspresi laki-laki menjadi terbatas. Padahal, maskulinitas tidak tunggal. Maskulinitas seseorang bisa bervariasi, berubah seiring waktu, dan mencakup sifat-sifat seperti empati maupun kerentanan tanpa kehilangan esensi sebagai laki-laki.
Dalam banyak cerita tradisional hingga modern, karakter perempuan kerap diposisikan sebagai pelengkap yang menyempurnakan tokoh laki-laki, sementara cinta dijadikan jalan pintas pencapaian emosional tanpa proses pertumbuhan. Narasi ini justru menutupi ketergantungan laki-laki pada perempuan dan membekukan perkembangan karakter pria dalam kerangka maskulinitas hegemonik.
Pasar yang tampak “tersedia” sesungguhnya dibentuk dan dilanggengkan oleh industri storytelling yang mengutamakan keuntungan dengan mereproduksi fantasi dominan patriarki. Ketakutan mempertahankan karakter laki-laki yang emosional bukan sekadar soal selera pembaca, melainkan bentuk peredaman suara dan penundukan narasi kritis terhadap tatanan patriarki itu sendiri.
Social Media Kami