Representasi Tubuh, Kekuasaan, dan Perlawanan dalam Film Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak (2017)
Representasi Tubuh, Kekuasaan, dan Perlawanan dalam Film Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak (2017)
"Malam ini kau adalah perempuan yang paling beruntung."
"Saya perempuan paling sial sudah malam ini."
Dialog di atas menjadi pemantik awal Markus, seorang perampok, yang perlahan merenggut ketenangan Marlina, perempuan muda yang telah lama berpisah dengan pasangannya. Dalam rumah sederhana di puncak bukit sabana Sumba, Nusa Tenggara Timur, ia pun terjebak. Terjebak dalam peristiwa yang akan menghantui sepanjang hidupnya.
Marlina dilecehkan dengan cara yang paling brutal oleh Markus dan keenam temannya. Ia digoda, dipaksa, hingga diperkosa. Hewan-hewan ternaknya pun juga dibabat habis, para pemerkosa itu mengancam nyawa Marlina dengan bengis, hingga melukai harga dirinya dengan sadis. Sampai suatu ketika, Marlina tak tinggal diam. Ia melayangkan pembalasan dendam yang kemudian dibagi dalam empat babak.
Disutradai oleh Mouly Surya, Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak (2017) menjadi ruang reflektif bagi kita untuk melihat representasi baru pada perempuan dalam melawan ketidakadilan gender serta dominasi laki-laki. Marlina diilustrasikan sebagai sosok perempuan yang tangguh, gigih, keras, dan bernyali besar dalam memperjuangkan hak-haknya sebagai seorang perempuan.
1. Act I: The Robbery (Perampokan)
Kedatangan Markus menjadi awal bagi Marlina memasuki situasi yang mengancam nyawanya. Alih-alih datang sebagai tamu, Markus bersama enam kawannya mengaku akan merampok ternak, nyawa, hingga martabat Marlina. Paksaan untuk menjamu dan "menemani" mereka menunjukkan bagaimana laki-laki menjadi pihak yang aktif dan dominan dalam menggerakkan alur. Sebagaimana Mulvey tegaskan dalam Visual Pleasure and Narrative Cinema (1975) melalui kerangka "The Male Gaze Theory", bahwa figur laki-laki dalam sinema sering hadir sebagai subjek berkuasa, sementara perempuan didorong menjadi objek yang pasif terhadap tatapan dan kehendak laki-laki.
Namun, film ini justru menjadikan kondisi awal itu sebagai percikan lahirnya perlawanan. Marlina tak lagi diciptakan sebagai perempuan yang terkukung dalam kerangka 'male gaze' tersebut. Ia justru memiliki strategi penuh perhitungan untuk melindungi dirinya. Saat para perampok menunggu makanan, ia bubuhkan racun ke sop jamuan mereka, hingga terenggutnya empat nyawa. Aksi ini menjadi representasi nyata dari nilai-nilai feminisme yang disisipkan sang sutradara perempuan, yang mendorong sudut pandang perempuan untuk tampil lebih aktif dalam menentukan nasibnya.
Baca Juga: Mengungkap Realitas Perempuan Pesisir di Pantura dalam Film Pangku (2025)
Pembalasan Marlina mencapai titik puncak ketika ia memenggal kepala Markus. Tindakan ini pun saya baca sebagai simbol perebutan kembali kuasa atas tubuh dan harga dirinya. Dengan meruntuhkan posisi laki-laki sebagai subjek dominan, Marlina menolak menjadi objek dan menunjukkan bahwa perempuan dapat mengambil alih kontrol atas hidup dan tubuhnya. Bahkan, nyawa lelaki yang telah berbuat semena-mena terhadap dirinya.
2. Act II: The Journey (Perjalanan)
Setelah berhasil memenggal sang pelaku utama, Marlina harus menempuh perjalanan panjang guna menuntut keadilan. Dengan membawa kepala Markus sebagai bukti "tahanan", Marlina berniat melaporkan perampokan yang dialaminya ke kantor polisi. Dengan jarak yang terlampau jauh karena akses yang tak merata, ia harus menaiki angkutan umum. Di sana, ia bertemu dengan Yohana dan Novi, dua perempuan yang tengah berbincang problematika rumah tangga.
Yohana merupakan seorang ibu rumah tangga yang telah lama terbelenggu dengan narasi patriarkis, yakni kehamilan merupakan sesuatu yang hanya dibebankan perempuan. Ia turut "mengajak" Novi, perempuan yang baru saja menginjak kehamilan pertamanya, untuk terperangkap dalam narasi tersebut. Interaksi Yohana dan Novi merepresentasikan bagaimana masyarakat kerap menjerumuskan perempuan sebagai aktor yang bertanggung jawab penuh untuk melakukan hal-hal yang bersifat domestik layaknya mengasuh, merawat, memasak, hingga membersihkan.
Bahkan, masyarakat kerap mendiskreditkan perempuan dengan menempatkan mereka dalam posisi yang timpang dibandingkan laki-laki yang lebih dominan. Relasi kuasa semacam ini juga dialami Marlina dalam perjalanannya. Ketika bus yang dinaikinya dibajak oleh Franz, salah satu kawanan Markus yang berhasil melarikan diri, Marlina terpaksa melanjutkan perjalanan menggunakan kuda yang ia temui di tengah jalan.
3. Act III: The Confession (Pengakuan)
Babak selanjutnya, yang seharusnya menjadi titik balik dari Marlina justru mencerminkan bagaimana polisi bekerja hingga saat ini. Mereka tak menangani laporan Marlina dengan serius, padahal ia telah menempuh jarak yang terlampau jauh. Namun, polisi menganggap kasusnya tak bersifat mendesak. Kasus Marlina pun ditunda dengan dalih keterbatasan akses dan dana, sehingga perempuan itu harus kembali pulang dengan tangan kosong.
Penanganan laporan Marlina ini tecermin dalam temuan Vik dkk. (2020) yang menunjukkan bahwa korban rentan cenderung kurang diprioritaskan dalam penyelidikan kepolisian dibandingkan dengan korban yang tidak rentan, sehingga laporan mereka lebih berisiko mengalami penundaan dan pengabaian. Cowan dalam Why Would Feminists Trust the Police? (2024) semakin memperkuat fenomena ini karena pengalaman perempuan kerap tidak diperlakukan sebagai keadaan darurat, melainkan diremehkan dan ditunda dengan alasan administratif.
Ketidakseriusan aparat ini pun mencerminkan cara kerja institusi kepolisian yang tidak dirancang untuk memulihkan korban, melainkan mengelola ketertiban. Relasi kuasa yang timpang antara aparat dan korban perempuan akhirnya menempatkan Marlina dalam posisi tanpa daya, sehingga ia harus kembali pulang tanpa memperoleh keadilan.
4. Act IV: The Birth (Kelahiran)
Babak selanjutnya pun mengajak kita untuk kembali menilik kisah Novi, sosok yang Marlina temui dalam perjalanannya menuju kantor polisi. Sang suami, Umbu, menunjukkan bagaimana kuatnya struktur patriarki menjerat kehidupan rumah tangga mereka. Dibandingkan memberikan dukungan, Umbu meluapkan kemarahan dan melakukan kekerasan verbal maupun fisik karena anak dalam kandungan Novi tak kunjung lahir.
Sikap diam Novi mencerminkan posisi perempuan yang terus dibebani tanggung jawab reproduksi dan dianggap sebagai pihak yang harus menanggung seluruh kesalahan. Sejalan dengan Haskell (2016), perempuan kerap menarik diri dalam "mati rasa" saat kekerasan laki-laki meningkat. Namun, respons itu menunjukkan ketahanan internal yang pada akhirnya memberi ruang bagi mereka untuk bertindak lebih produktif.
Situasi kemudian berubah ketika Franz, satu-satunya perampok yang tersisa, menculik Novi dan memaksanya kembali ke rumah Marlina dengan tujuan menuntut pengembalian kepala Markus. Setibanya di sana, Franz memperlihatkan bentuk paling brutal dari patriarki. Ia menyuruh Novi memasak baginya dan pada saat yang sama memperkosa Marlina.
Tindakan ini menegaskan bagaimana perempuan direduksi menjadi objek dan pelayan, yang terperangkap dalam struktur sosial yang menempatkan laki-laki sebagai pusat kuasa. Bahkan setelah Marlina melawan dan memenggal Markus, Franz tetap merasa memiliki hak atas tubuhnya. Hal ini menunjukkan bahwa objektifikasi terhadap perempuan tidak serta-merta lenyap meskipun mereka telah berjuang merebut kendali atas diri dan hidupnya.
Namun, babak ini juga memperlihatkan titik balik bagi Novi. Selama memasak untuk Franz, rasa marah dan trauma yang terakumulasi membentuk keberanian baru dalam dirinya. Ketika melihat Marlina kembali menjadi korban kekerasan seksual, Novi memilih untuk melampaui sikap pasifnya selama ini. Ia pun berani memenggal kepala Franz, membunuhnya tepat saat Franz memperkosa Marlina. Tindakan ini memperlihatkan transformasi Novi menjadi perempuan yang akhirnya memiliki kuasa atas tubuh, pilihan, dan dirinya sendiri.
Marlina Memperlihatkan Pahitnya Kehidupan Perempuan
Marlina memperlihatkan pahitnya kehidupan perempuan di daerah Sumba kerap dibelenggu kekerasan, objektifikasi, dan ketidakadilan. Pada 2024 saja, terdapat 1.690 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, yang tercatat. Meski begitu, masih terdapat sekelompok korban yang belum memiliki akses atau keberanian untuk melapor karena adanya hambatan sosial dan budaya. Hambatan ini berakar pada kuatnya budaya patriarki dan stigma sosial yang memandang korban sebagai "aib keluarga". Alhasil, kasus kerap ditutupi atau diselesaikan melalui mekanisme adat.
Ketimpangan relasi kuasa dalam keluarga dan komunitas, ditambah praktik penyelesaian adat yang mengutamakan kehormatan kolektif dibandingkan pemulihan korban, membuat banyak korban tidak memiliki keberanian maupun ruang aman untuk melapor. Hal ini mencerminkan bagaimana keluarga (sebagai aktor pendukung terdekat) gagal menjalankan fungsinya bagi perempuan.
Laki-laki, sistem patriarki, dan ketidakadilan struktural menjadi tiga momok yang sejak lama membayangi perempuan Sumba. Kaum perempuan ditempatkan sebagai korban dari konstruksi sosial tersebut, yang pada akhirnya merugikan mereka dalam hampir seluruh ranah kehidupan. Namun, Mouly Surya justru menampilkan Marlina sebagai manifestasi perempuan yang menolak tunduk pada aturan patriarki, yang berdiri di atas kuasa dirinya sendiri meski penuh risiko. Melalui perlawanan yang ia lakukan, film ini menonjolkan unsur feminisme yang tidak hanya menghadirkan keberanian, tetapi juga memperlihatkan proses panjang perempuan dalam menegosiasikan ruang hidupnya.
Beragam fenomena sosiologis membuat perjuangan Marlina terasa konkret dan dekat dengan kenyataan. Karenanya, ia juga memantik refleksi tentang bagaimana perempuan terus berupaya menegakkan struktur sosial yang lebih adil bagi diri mereka. Lantas, dengan munculnya berbagai gerakan emansipatif pada perempuan seperti saat ini, akankah kesetaraan menjadi kenyataan yang telah lama didambakan? Atau bayangan belaka yang tetap dilanggengkan oleh sang tuan?
Social Media Kami